okSELAMAT DATANG DI BLOG TASIK ONLINE 24 JAM, okNIKMATI FITUR-FITUR MENARIK DISINI. okSELAMAT BERPETUALANG!!! ok

A. Hassan Pemikir Islam Pendebat Taklid Buta

Monday, February 13, 2012

A. Hassan dan Sejarah Pembaharuan Islam di Indonesia

A. Hassan merupakan pemikir muda dengan gagasan segar. Ketokohannya diakui tidak hanya oleh mereka yang mengaguminya saja tetapi bahkan oleh mereka-mereka yang menjadi lawan debatnya. A. Hassan merupakan tokoh yang amat gigih dalam mengembangkan ilmu-ilmu keislaman di masanya. 

Gagasan dan pemikirannya banyak ditulis dalam karya-karyanya yang tidak kurang dari delapan puluh judul. Beliau merupakan penulis tafsir pertama di Indonesia. A. Hassan banyak bergerak lewat media diskusi, mengadakan tabligh, mengadakan kursus pendidikan, mendirikan pesantren, menerbitkan berbagai buku serta majalah.

Dalam berdakwah, A. Hassan seringkali menggunakan metode debat tentang segala sesuatu yang terkait dengan problem keagamaan. Cara tersebut memberikan kepuasan tersendiri di setiap kalangan masyarakat yang mengikuti acara tersebut. Akhirnya nama A.Hassan populer dan tersiar ke berbagai peloksok.

Segi-segi Kehidupan A. Hassan
Ahmad Hassan lahir di Singapura pada tahun 1887. Ayahnya bernama Ahmad Sinna Vappu Maricar berasal dari India yang masih merupakan keturunan ulama Mesir yang sekaligus berprofesi sebagai wartawan dan penerbit buku serta surat kabar berbahasa Tamil. Ibunya bernama Muznah berasal dari Palekat, Madras.

Keduanya menikah di Surabaya kemudian menetap di Singapura. Ahmad Hassan merupakan nama yang dipengaruhi oleh budaya Singapura. Nama aslinya adalah Hassan bin Ahmad, namun karena mengikuti kelaziman budaya Melayu yang meletakkan nama keluarga atau orang tua di depan nama asli, akhirnya nama Hassan bin Ahmad berubah menjadi Ahmad Hassan.

A. Hassan menikah pada tahun 1911. dengan Maryam peranakan Melayu-Tamil di Singapura. Dari pernikahannya ini ia dikaruniai tujuh orang putra-putri; (1) Abdul Qadir, (2) Jamilah, (3) Abdul Hakim, (4) Zulaikha, (5) Ahmad, (6) Muhammad Sa‘id, (7) Manshur.

A. Hassan belajar al-Qur’an pada umur sekitar tujuh tahun, kemudian masuk di Sekolah Melayu. Ayahnya sangat menekankan agar Hassan mendalami bahasa Arab, Inggris, Melayu dan Tamil di samping pelajaran-pelajaran lain.

Guru-gurunya antara lain adalah H. Ahmad di Bukittiung dan Muhammad Thaib di Minto Road. Kepada Muhammad Thaib, Hassan belajar nahwu dan sharaf, namun kira-kira empat bulan kemudian, ia merasa tidak memiliki kemajuan, karena hanya menghafal saja tanpa dimengerti, semangat belajarnya pun menurun.

Dalam keadaan seperti itu, untunglah gurunya naik haji. Akhirnya, A. Hassan beralih belajar bahasa Arab kepada Said Abdullah al-Musawi sekitar kurang lebih tiga tahun. Selain itu, A. Hassan belajar kepada Syeikh Hassan al-Malabary dan Syeikh Ibrahim al-Hind. Semuanya ditempuh hingga kira-kira tahun 1910, ketika ia berumur 23 tahun. Walaupun pada masa ini A. Hassan belum memiliki pengetahuan yang luas tentang tafsir, fiqh, fara‘id, manthiq, dan ilmu-ilmu lainnya, namun dengan ilmu alat yang ia miliki itulah yang kemudian mengantarkannya memperdalam pengetahuan dan pemahaman terhadap agama secara otodidak.

Sejak tahun 1910 sampai 1921, A. Hassan tercatat antara lain menjadi guru agama dan bahasa Melayu, Inggris, Arab dan Tamil. Ia juga tercatat pernah menjadi guru di Singapura dan beberapa tempat di Malaya (Malaysia) serta di Sanglang dan Benut daerah Kutub. Di samping itu ia pernah berdagang permata, minyak wangi, dan menjadi agen distribusi es, vulkanisir ban mobil, juga menjadi kolumnis surat-surat kabar terbitan Singapura dan tanah Malaya. Dua tahun lebih pernah menjabat anggota pengarang harian ber­pengaruh di Malaya dan di Singapura pada “Utusan Melayu” milik Singapure Free Press. Di harian ini, selain menuangkan tulisan-tulisannya berupa na­sihat, ia juga terampil menuangkan berbagai kritikannya terhadap masalah-­masalah yang dianggapnya bertentangan dengan agama. Ketika itu A. Hassan sudah mulai banyak membaca tulisan-tulisan para pembaru dalam majalah al-Manâr (Kairo), al-Imâm (Singapura), al-Munîr (Padang) dan tulisan-tulisan Syekh Ahmad Soorkati yang beliau temukan dalam sebuah buku berjudul Surat al-Jawâb tahun 1914.

Pada tahun 1921 A. Hassan pindah ke Surabaya dengan maksud meng­gantikan pimpinan perusahaan tekstil kepunyaan pamannya, H. Abdul Latif. Pada waktu itu Surabaya merupakan pusat pertentangan paham antara Islam tradisional dan Islam modernis. A. Hassan ketika itu disarankan oleh paman­nya agar tidak berhubungan dengan Fakih Hasyim, seorang penggerak Mu­hammadiyah di Surabaya. Suatu saat A. Hassan diajak pamannya untuk mene­mui K.H. Abdul Wahab, salah seorang tokoh yang kemudian dikenal sebagai pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Dalam percakapan mereka K.H. Wahab mengajukan pertanyaan kepada A. Hassan tentang bagaimana hukum ‘ushallî’. Ketika itu A. Hassan menjawabnya sebagai perbuatan sunnat. Akan tetapi saat ditanya alasannya mengapa hukumnya ‘sunnat’, maka A. Hassan meminta ke­sempatan untuk mencarinya di dalam Al-Qur`an dan as-Sunnah. Keesokan hari­nya setelah A. Hassan membuka-buka kitab Hadits Bukhari dan Muslim, ter­nyata alasan sunnatnya ‘ushallî’ tidak ditemukan. Hal ini mendorong A. Hassan untuk membenarkan pendapat kalangan Islam modernis, akhirnya kaum mo­dernislah yang ia ikuti, sehingga selama berada di Surabaya A. Hassan banyak bergaul dengan Fakih Hasyim dan kalangan Islam modernis lainnya seperti HOS Tjokroaminoto, H. Agus Salim dan Wondoamiseno.

Pada tahun 1924, A. Hassan pergi ke Bandung untuk belajar pertenunan. Di kota ini beliau sempat berkenalan dengan Muhammad Yunus. Ketika ia belajar di sekolah pemerintah, ia tinggal di rumah Muhammad Yunus selama sembilan bulan. Kemudian pada tahun 1926, A. Hassan memasuki Persatuan Islam (Persis) sebagai anggota resmi. A. Hassan merasa tertarik dengan kegiatan-kegiatan organisasi ini, sehingga berani meninggalkan rencana semula untuk memajukan tekstilnya di Surabaya. Selanjutnya A. Hassan tekun dan serius memusatkan perhatiannya dalam penelitian agama, mengajar dan giat memajukan organisasi yang pada akhirnya A. Hassan diangkat menjadi guru Persatuan Islam.

A. Hassan adalah seorang sosok yang otodidak, karena pendidikan formal yang dilaluinya hanya di Sekolah Melayu. Walaupun demikian, ia menguasai bahasa Arab, Inggris, Tamil, dan Melayu yang dapat digunakan olehnya dalam pengembaraan intelektualnya. Pada masa itu, ia telah membaca majalah Al-Manar yang diterbitkan oleh Muhammad Rasyid Ridha di Mesir, majalah Al-Imam yang diterbitkan oleh ulama-ulama Kaum Muda di Minangkabau. Selain itu, A. Hassan telah mengkaji kitab Al-Kafa‘ah karya Ahmad al-Syurkati, Bidayat al-Mujtahid karya Ibnu Rusyd, Zad al-Ma‘ad karya Ibnu Qayyim al-Jawziyyah, Nayl al-Awthar karya Muhammad Ali al-Syawkaniy, dan Subul al-Salam karya al-Shan‘aniy.

Pergaulan A. Hassan cukup luas, di antara sahabat-sahabatnya adalah Faqih Hasyim, Ahmad Syurkatiy, H.O.S. Cokroaminoto, H. Agus Salim, Mas Mansur, H. Munawar Chalil, Soekarno, Muhammad Maksum, Mahmud Aziz, dan lain-lain.

A.Hassan pernah menjadi guru spiritual Soekarno ketika mengalami pembuangan di Plores, sehingga Soekarno dapat memahami konsep keislaman dan merasa ketagihan dengan gagasan-gagasan progresif yang dimiliki A.Hassan.

Pada tahun 1940, A. Hassan pindah ke Bangil, Jawa Timur, dan mendirikan Pesantren Persatuan Islam Bangil, ia tetap mengajar dan menulis di majalah Himayat al-Islam yang diterbitkannya hingga wafat pada 10 Nopember 1958. dan dimakamkan di Pekuburan Segok, Bangil.

A. Hassan dan Persatuan Islam (Persis)
Walaupun bukan sebagai pendirinya, tetapi nama A. Hassan sering di-identikkan dengan nama Persis, yaitu suatu organisasi pembaharu keagamaan yang lahir pada tanggal 12 September 1923 di Bandung. Kelahiran Persis setidaknya merupakan jawaban dari sikap kolonial Belanda masa itu yang mencoba menerapkan unifikasi hukum, yaitu mematikan syariat Islam dan menampilkan hukum barat melalui pemberlakuan hukum adat sebagai perantara pengalihan. Dakwah Persis diambil langsung dari sumber al-Qur'an dan Hadits, karenanya pula Persis menolak bermazhab.

Dakwah Persis dimulai secara sembunyi-sembunyi karena adanya pengawasan yang ketat dari pihak Belanda, baru setelah Moh. Natsir pada tahun 1934 memintakan pengesahan organisasi tersebut pada kementerian kehakiman maka Persis memulai dakwah secara terbuka. 

Moh. Natsir sendiri merupakan mantan ketua umum PP Persis dan salah satu murid kesayangan dari A. Hassan, ia yang paling menonjol dari semua murid-muridnya. Bersama Moh. Natsir dan Persis maka A. Hassan menerbitkan majalan Pembela Islam, gerakan dakwah Persis sempat memasuki arena politik setelah pada tahun 1930-an pemerintahan Belanda semakin keras melakukan tekanan pada kegiatan kaum pribumi sementara dalam waktu bersamaan kaum Salibis mulai melancarkan misi Kristenisasinya secara meluas.

Secara internal kebangsaan, Persis berhadapan dengan kelompok PNI yang dilakoni oleh mantan presiden, Soekarno, perbedaan terjadi karena adanya perbedaan ideologi dari keduanya. Meski demikian Persis tidak menganggap PNI sebagai musuhnya, bahkan saat Soekarno dipenjara di Banceuy Bandung, orang-orang Persis merupakan yang pertama membesuknya.

Persis bukan organisasi pembaharuan agama yang pertama di Indonesia, sebelumnya sudah berdiri Muhammadiyah di kota Yogya, al-Irsyad di Jakarta serta Syarikat Dagang Islam, Syarikat Islam dan Perserikatan Ulama. Namun karena masing-masing organisasi itu telah membatasi dirinya dibidang-bidang tertentu seperti Syarikat Dagang Islam menitik beratkan perhatiannya pada sektor Ekonomi yang membidani kelahiran Koperasi, Syarikat Islam dibidang politik dan Perserikatan Ulama yang berdiri di Majalengka Jawa Barat pada keterampilan para santri dibidang usaha sementara Muhammadiyah sendiri sibuk dengan bidang sosial dan pendidikan, maka Persis berdiri untuk menjembatani semuanya dan menitik beratkan pada dakwah agama. 

Tahun 1942 saat invasi Jepang ke Indonesia, Persis sudah mendirikan 6 masjid dengan anggota jemaahnya berjumlah 500-an orang. Jum'atan pertama Persis mendapat reaksi keras dari masyarakat. Soalnya ketika itu khutbah Jum'at biasa dan harus disampaikan dengan bahasa Arab, sedangkan Persis menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerah sebagaimana lazimnya sekarang. 

Persis juga yang pertama kali membuat tafsir al-Qur'an dari kiri kekanan, karena tafsirnya itu menggunakan huruf latin. Pada waktu itu orang beranggapan kafir bila memakai huruf latin disebelah huruf Arab. Barangkali saking bencinya kepada Belanda, huruf Latinpun dikafirkan. Sedangkan A. Hassan sendiri melalui Persisnya menganggap masalah huruf Latin hanyalah urusan duniawi.

Pesantren Persis juga mempelopori gerakan pembaharuan internal, gurunya berdasi dan muridnya harus bersih dan necis tidak seperti kalangan Pesantren waktu itu yang masih menggunakan sarung dan tidak terlalu memperhatikan masalah pakaian.
A. Hassan melalui Persis-nya melakukan dakwah secara frontal, beliau menganggap bahwa umat sudah menjadi jumud (beku) bahkan mundur karena telah menyimpang dari ajaran al-Qur'an dan Hadits. Baginya Islam itu sesuai tuntutan jaman, Islam berarti kemajuan dan agama tidak menghambat malah menyetujuinya, mencari ilmu pengetahuan, perkembangan sains modern, persamaan hak antara kaum wanita dan pria dan seterusnya.
Mereka melakukan perdebatan-perdebatan dengan orang-orang yang tidak menyetujui cara pandang mereka terhadap agama, perdebatan panjang telah mereka lalui, mulai dengan pihak Kristen, kaum Tua atau tradisional, kaum kebangsaan, Ahmadiyah sampai pada komunis Ateis. Contoh kisah Mubahalah antara kaum Persis dengan pihak Ahmadiyah Jakarta yang pernah menghebohkan, peristiwa tersebut didahului dengan perdebatan sengit antara keduanya yang mengakibatkan banyak anggota Ahmadiyah keluar dan sebagian lagi menjadi anggota Persis. Contoh lain misalnya bagaimana A. Hassan menolak keras paham mengenai sampainya pahala bacaan Yasin orang hidup kepada orang yang sudah mati. 

Berdebat dalam hal agama menurut A. Hassan bagaikan membebaskan katak dari kurungan tempurung sehingga memberi kesempatan bagi manusia untuk memilah dan memilih kebenaran sejati. Tindakan dan cara seperti ini memang banyak ditentang oleh sejumlah orang terutama bagi mereka yang sama sekali tidak memiliki kemampuan atau keberanian dalam berdebat, tetapi seperti yang diungkapkan oleh Moh. Natsir bahwa beragama itu harus cerdas dan jelas, sebab antara yang hak dan yang batil tidak bisa dicampur. Memang bagi orang yang kalah berdebat bisa saja menjadikannya sebuah tamparan dimuka umum sehingga menjadikannya trauma, tetapi bagaimanapun agama ini tidak boleh dipahami secara beku, kita harus berani kritis dalam beragama. 

Bid'ah dalam agama bukan suatu perbedaan, bid'ah adalah penyimpangan dari Qur'an dan Sunnah, membiarkan Bid'ah artinya kita memupuk perbuatan yang salah dan kemunafikan. 

A. Hassan tahu benar bahwa pendiriannya yang terlalu keras dalam beragama menimbulkan banyak orang benci dan memusuhinya. Tetapi disayang atau dibenci buatnya adalah urusan orang lain. Dia tidak memperdulikan masalah itu. Baginya musuh dalam tulisan tetapi tidak dengan orangnya. Dia selalu hormat kepada setiap orang walaupun itu musuhnya sendiri. Bertamu kerumahnya pintu terbuka lebar, apalagi orang itu datang dari jauh, diterimanya bahkan dilayaninya sebaik-bainya. Selama ini, ada kesan, bahwa A. Hassan berperangai keras dan kritikannya tajam menghujam, seakan tidak melihat kondisi psikologis orang yang dikritiknya. Tapi, kesan itu akan sirna ketika mereka melihat A. Hassan dalam pergaulan hidup sehari-hari yang ternyata sangat lembut, baik ucap maupun geraknya. Dia sangat memuliakan tamu. Setiap surat yang datang dari siapapaun pasti dibalasnya sehingga ia disebut juga singa dalam tulisan dan domba dalam pergaulan. 

A. Hassan ahli dalam segala macam masalah agama, segala macam pertanyaan dapat dijawabnya. Dia mempunyai buku catatan mengenal hampir semua masalah agama. Setiap masalah disusun menurut abjad, dan dalam seuatu munazarah atau perdebatan ia hanya membawa buku catatan tersebut. 

Menurut Buya Hamka, banyak buku karangan A. Hassan dalam bahasa Indonesia menyiarkan paham Islam dengan dasar al-Qur'an dan Hadits, memerangi taklid atau ikut-ikutan paham orang lain tanpa mengetahui dasarnya. Dia menganjurkan kebebasan berpikir, menolak Bid'ah dan khurafat atau ajaran yang tidak masuk akal dan membersihkan akidah dari pengaruh ajaran lainnya. A. Hassan juga sangat gigih memberantas penyimpangan praktek keagamaan Islam yang berlebihan seperti pendudukan posisi ulama yang lebih tinggi dari ajaran Rasul sampai-sampai meskipun suatu pengajaran itu bertentangan dengan al-Qur'an dan Sunnah namun tetap condong untuk taklid kepada ulama. 

Keistimewaan seorang A. Hassan adalah pada kekuatan hujjahnya atau dasar argumentasinya serta keteguhan dalam mempertahankan pendirian yang beliau yakini kebenarannya. 

A. Hassan adalah salah seorang tokoh pemikir yang produktif menuliskan ide-idenya baik di  majalah-majalah maupun dalam bentuk buku. Karya-karya tulisnya, antara lain:

1. Dalam bidang Al-Qur‘an dan Tafsir: Tafsir Al-Furqan, Tafsir Al-Hidayah, Tafsir Surah Yasin, dan Kitab Tajwid.
2. Dalam bidang Hadits, Fiqh, dan Ushul Fiqh: Soal Jawab: Tentang Berbagai Masalah Agama, Risalah Kudung, Pengajaran Shalat, Risalah Al-Fatihah, Risalah Haji, Risalah Zakat, Risalah Riba, Risalah Ijma‘, Risalah Qiyas, Risalah Madzhab, Risalah Taqlid, Al-Jawahir, Al-Burhan, Risalah Jum‘at, Hafalan, Tarjamah Bulug al-Maram, Muqaddimah Ilmu Hadits dan Ushul Fiqh, Ringkasan Islam, dan Al-Fara‘idh.
3. Dalam bidang Akhlaq: Hai Cucuku, Hai Putraku, Hai Putriku, Kesopanan Tinggi Secara Islam.
4. Dalam bidang Kristologi: Ketuhanan Yesus, Dosa-dosa Yesus, Bibel Lawan Bibel, Benarkah Isa Disalib?, Isa dan Agamanya.
5. Dalam bidang Aqidah, Pemikiran Islam, dan Umum: Islam dan Kebangsaan, Pemerintahan Cara Islam, Adakah Tuhan?, Membudakkan Pengertian Islam, What is Islam?, ABC Politik, Merebut Kekuasaan, Risalah Ahmadiyah, Topeng Dajjal, Al-Tauhid, Al-Iman, Hikmat dan Kilat, An-Nubuwwah, Al-‘Aqa’id, al-Munazharah, Surat-surat Islam dari Endeh, Is Muhammad a True Prophet?
6. Dalam bidang Sejarah: Al-Mukhtar, Sejarah Isra‘ Mi’raj,
7. Dalam bidang Bahasa dan Kata Hikmat: Kamus Rampaian, Kamus Persamaan, Syair, First Step Before Learning English, Al-Hikam, Special Dictionary, Al-Nahwu, Kitab Tashrif, Kamus Al-Bayan, dan lain-lain.

A. Hassan Versus Ahmadiyah
Gang Kenari, Batavia, September 1933. Sebuah perdebatan sengit antara A Hassan, tokoh Persatuan Islam (Persis) dengan mubaligh Ahmadiyah yang diwakili oleh Abu Bakar Ayyub dan Maulana Rahmat Ali H.A.O.T digelar. Perdebatan ini begitu terkenal dalam sejarah keberadaan Ahmadiyah di Indonesia. Maklum, ketika itu, organisasi bentukan imprealis Inggris ini sedang giat-giatnya menyebarkan ajarannya. Ada tiga hal penting yang menjadi materi perdebatan, dua diantaranya adalah soal kenabian Mirza Ghulam Ahmad dan turunnya Isa as dan Imam Mahdi.

Dalam perdebatan itu, A Hassan yang dikenal piawai dalam berdebat, mengemukakan sebuah “hadits” yang berbunyi: “Di hari Rasulullah SAW meninggal, bumi berteriak, katanya: “Ya Allah, apakah badanku ini akan Engkau kosongkan daripada diinjak oleh kaki-kaki nabi sampai hari kiamat?” Maka Allah berfirman kepada bumi itu: “Aku akan jadikan di atas badanmu manusia yang hatinya seperti nabi-nabi.”

Abubakar Ayyub lalu menanyakan tentang riwayat hadits ini.  Maka A Hassan menjawab tidak tahu, sambil berkata: “Apakah tuan suka hadits ini? Bila tuan suka silakan pakai, bila tidak silakan tolak.”

Abubakar Ayyub pun menolak “hadits” yang disampaikan oleh A Hassan itu, karena tidak jelas siapa perawinya, dari mana diambilnya, dan di kitab apa tertulisnya. Pengikut Ahmadiyah yang hadir ketika itu bersorak, merasa bangga dengan tokohnya yang akan menang berdebat dengan waktu singkat, sebab A Hassan tidak bias menerangkan riwayat hadits yang dibacanya. Para penonton dari kalangan Ahmadiyah bersorak, dan Ayyub pun merasa dirinya menang. 

Namun kemudian A Hassan membuat kejutan. Ia mengatakan bahwa hadits itu terdapat di kitab Mirza, Tuhfah Baghdad halaman 11. Seketika, para pengikut Ahmadiyah diam seribu bahasa.

Maka A Hassan meminta kepada Abubakar Ayyub agar bertanya kepada nabinya (Mirza) tentang riwayat hadits itu dan dari mana diambilnya, serta tanyakan pula, bagaimana bumi bisa bicara kepada manusia, sebab hadits itu bukan hadits nabi, mengingat bumi berteriak setelah Rasulullah wafat. Jadi, tegas A Hassan, tentu ada orang lain yang mendengar omongan bumi, dan jawaban Allah itu pun orang lain yang mendengar. Siapa dia? Tanyakan kepada “nabi” Mirza.

Abubakar Ayub yang ketika itu sudah kalah total tak bisa membantah argumen A Hassan, tetapi ia masih berkelit dengan mengatakan bahwa hadits itu, bisa jadi terdapat dalam kitab “Kanzul Ummi,” masih kitabnya Ahmadiyah, namun ia bahkan melemahkan dirinya dengan mengaku tidak membawa kitab tersebut, jadi tidak bisa dilihat.

...Abubakar Ayub, tokoh Ahmadiyah Indonesia itu sudah kalah total tak bisa membantah argumen A Hassan. Ia hanya berkelit...

Selanjutnya A. Hassan menegaskan bahwa dengan adanya “hadits” itu sudah cukup menunjukkan kepalsuan Mirza. Lagi pula, kata A Hassan, hadits yang dibawakan oleh Mirza itu dengan jelas menyebutkan bahwa nabi (setelah Nabi Muhammad) tidak ada lagi. Yang ada hanya orang-orang yang hatinya seperti nabi.
“Kalau perkataan yang begini terang, tuan mau putar-putar lagi, saya minta diadakan juri. Saya heran, apa sebab Ahmadiyah takut diadakan juri. Juri tidak akan makan orang!” tegas A. Hassan.

Dari perdebatan ini jelas bahwa sebenarnya Abubakar Ayyub tidak memiliki hujjah (dalil) yang kuat untuk membela Mirza Gulam Ahmad sebagai seorang nabi. Meski demikian ia tidak tunduk dan menjadi pengikut Islam yang benar. Ia tetap menjadi pengikut Ahmadiyah. Memang Abubakar Ayyub dikenal sebagai orang yang pandai memutarbalikkan fakta demi untuk mempertahankan keyakinannya kepada Ahmadiyah.

Hal itu terlihat ketika A Hassan tak menyebut rawi hadits dan kitab yang memuatnya, keluarlah ejekan dan cemoohan. Namun kektika A. Hassan menyebutkan bahwa hadits itu tertera di kitab Tuhfah Baghdad terbitan Punjab Press Sialkot, Muharram 1311 H, Abubakar Ayyub dan pengikut Mirza lainnya pucat pasi, tetapi mereka tidak berubah keyakinan, tetap menjadi pengikuti Mirza. 

Kisah perdebatan itu ditulis oleh H Tamar Djaya, seorang sejarawan Muslim dalam buku Riwayat Hidup A Hassan, dan ditulis kembali oleh Yusuf Badri dalam Persis dan Ahmadiyah. Meski tak ada kesepakatan apapun setelah debat itu, risalah perdebatan A Hassan versus Ahmadiyah kemudian dibukukan dan disebarluaskan ke seluruh Indonesia. Pihak Ahmadiyah memanipulasi sejarah dengan mengatakan, setelah debat itu banyak orang yang tertarik masuk dalam kelompoknya.

A. Hassan Mendebat Soekarno
Sosok ulama seperti Ahmad Hassan atau lebih akrab dengan sebutan A.Hassan mungkin lebih dikenal dalam dunia fiqih. Mungkin juga tidak banyak yang tahu bahwa sosok ulama yang terkenal radikal ini pernah terlibat langsung dalam percaturan pemikiran politik. Metodologi Dakwah yangditempuh A.Hassan selain memunculkan karya tulis, baik melalui majalah yang dipimpinnya atau sejumlah buku yang sengaja disusunnya untuk topik tertentu. Juga tidak jarang ia pun melakukan dialog terbuka dengan melayani perdebatan dari setiap tokoh yang menghujat peikirannya. Misalnya, mengadakan debat terbuka dengan sejumlah tokoh Ahmadiyah, NU, Komunis, Nasionalis yang bahkan tidak tanggung-tanggung lawan debatnya yaitu Mantan Presiden Ir. Soekarno, orang nomor satu di Indonesia kala itu.

Kaum Nasionalis sekuler adalah mereka yang sangat mengagungkan demokrasi dan HAM, tapi mengapa mereka menjadi antidemokrasi dan HAM untuk Kaum Muslimin? Dalam sejarah nasional tidak akan ditemukan satu episode tentang perjalanan hidup Soekarno yang pernah dekat dengan A.Hassan. Kalau tidak dengan perlakuannya yang jujur, mungkin kita tidak tahu bahwa Soekarno telah menganggap A.Hassan sebagai gurunya, yang telah memberikan pelajaran berharga pada Soekarno, walaupun pada akhirnya Soekarno tidak dapat membumikan pelajar dari gurunya itu.

Dalam Perdebatannya, salah satunya membicarakan tentang upaya Soekarno yang menghendaki agar Indonesia mengikuti jejak Turki. Tetapi seluruh argumentasinya mendapat bantahan keras dari A.hassan. Dibawah ini merupakan bantahan artikel-artikel Soekarno yang patut dibantah dengan Bahasa yang tidak saya rubah agar kita ikut merasakan pada era itu.

Soekarno: ”Apa yang Turki buat dengan apa yang dibuat oleh negeri Barat, yaitu pisahkan agama dari Negara”
A. Hassan A. Hassan: “Pemisahan agama dari staat sebgaaimana di Eropa itu, Tuan Soekarno anggap modern dan radikal Tuan Soekarno tidak tahu, bahwa orang Eropa pisahkan agama Kristen dari Staat (UU Negara) itu, tidak lain melainkan lantaran dalam agama Kristen tidak ada cara mengatur pemerintahan. Dari Zaman Nabi Isa sampai sekarang belum terdengar ada satu staat menjalankan hukum agama Kristen, bukan begitu keadaan Islam.
Soekarno: “Bahwa kehilangan pengaruh Islam di Turki ialah lantaran di urus oleh pemerintah (sebelum Mustafa kamal). Umat terikat kaki tangannya kepada politik pemerintah yang mengurus agama. Dimana saja pemerintahannya campur tangan dalam urusan agama, disitu ia jadi penghalang besar tak dapat dienyahkan”
A. Hassan: Pengaruh Islam hilang di Turki lantara oleh pemerintah, Ini bisa jadi. Tetapi kita mesti lihat, apakah pemerintah sudah urus dengan secara Islam betul-betul ataukah dengan semau-maunya.
Sepanjang Tarikh memang sudah lama sultan-sultan Turki jadikan Islam sebagai perabot saja, tidak dijalankan Islam urus Islam sebagaimana mestinya.
Ini tidak berarti bahwa agama itu tidak layak dijadikan agama staat, ini tidak berarti bahwa Islam tidak sanggup mengurus dunia.
Kalau satu kerajaan sudah dijadikan Islam sebagaimana hingga ia jadi halangan bagi kemajuan dan hilang pengaruhnya, maka siapakah yang bersalah dalam urusan ini? Kerajaan ataukah agama?
Kalau disatu tempat, kebangsaan orang jadikan perabot buat memecah, maka maukah Tuan Soekarno buang dan singkirkan kebangsaan seperti tersebut?”
Soekarno: “Buat kesuburan di Turki, maka Islam dimerdekakan dari pemeliharaan pemerintah. Buat kesuburan Islam Khilafah dihapuskan. Buat kesuburan Islam komisariat Islam ditutup. Diganti dengan WET Switzerland”
A. Hassan: Lihat bagaimana logikanya “otak-otak lumpur”. Satu peraturan yang dijaga dengan senapan dan meriam belum tentu subur. Bagaimana satu agama, satu perturan bisa subur kalau tidak ada pelindungnya?
Wajib diadakan khalifah buat memelihara Islam, mempertahankan islam, buat menyuburkan Islam, tetapi dinegeri orang tidak jumud alias “orang-orang beotak lumpur” khalifah itu dibuang, supaya Islam “subur’ dan kantor komisariat syariat juga ditutup untuk kesuburan Islam.
Bagaimana saya berkata “untuk suburnya kebangsaan jananlah ada penerintah campur tangan didalam hal kebangsaan, karena tidak sedikit orang-orang tipu dengan nama kebangsaan?
Adakah pernah kejadian, menurut sepanjang tarikh bahwa satu peraturan, satu pergerakan, lebih subur kalau tidak dibela, tidak diurus, hanya dilepas saja, hanya terapug-apung, tenggelam-timbul? Saya harap Tuan Soekarno tidak berkecil hari membaca tulisan ini. Saya terpaksa mebela apa yang saya rasa patut dibela, dan patut pua saya membahas tulisan tuan dengan sepantas itu.
Soekarno: “Bahwa jadi Wet negeri di Turki diambil Code Switzerland samasekali buat mengganti  Wet Familie (Islam)”
A. Hassan: Orang Islam tahu bagaimana hukumnya satu negeri Islam yang tidak dujalankan hukum Allah dan RasulNya didalam perkara dunia dan ibadah. Keadaan yang begini terang fisq-nya, zhulmnya, atau kufurnya, menurut firman Allah”
Soekarno: Quran sama sekali di Turkikan sabagai Bybel di belandakan atau diinggriskan.
A. Hassan: Saya setuju quran dipindahkan kepada sekalian bahasa dalam dunia, tetapi dengan menghilangkan teksnya yng dengan huruf Arab. Lantaran faham yang kita dapat dari satu bahasa “A” belum tentu kita dapati dari bahasa lain yang disalin dari bahasa “A” itu.
Wet belanda ditulis dengan bahasa Belanda. Kalau Wet itu sudaj disalin kedalam bahasa melayu, maka di beberapa tempat, faham yang kita dapati dari buku wet dalam bahasa Melayu itu tidak sama dengan yang kita ambil dari buku wet bahasa Belanda. Begitulah sebaliknya. Dan lain-lain; perkara begini mudah, tidak patut lenyap dari Soekarno.
Soekarno: Bahwa Turki bukan fanatic agama. Turki belum lama masuk Islam. Dulunya mereka beragama lain. Lantaran itu, tidak heran kalau mereka buang urusan-urusan lama, walaupun mengenai agama atau berlawanan dengan agama.
A. Hassan: “saya tidak tahu dari jempol mana Tuan Soekarno isap perkataan Turki tidak fanatic agama” itu bisa jadi. Siapa yang membaca tarikh kerajaan Turki diwaktu damai dan dalam masa perang, niscaya dapat tahu kedustaan omongan tuan Soekarno itu. Dengan kefanatikan agamalah dulunya bangsa Turki terkenal dan dapat kemenangan yang besar dan luas. Tentara-tentaranya diberanikan dengan suntikn agama, Sebelum islam, Turki tidak terkenal sebagai satu bangsa yang terkemuka, sesudah melepaskan agama, menyembah serigala putih, lantas memeluk islam, termasyhurlah mereka.
Bahasa Turki umunya fanatik kepada islam. Hanya kefanatikannya itu ada tingkatnya. Tetapi Turki sebagaimana lain-lain bangsa juga, ada didalamnya intelek-intelek sontoloyo.
Kebetulan intelek-intelek sontoloyo dan kebaratan ini berkuasa, lantas memnindas kaum-kaum agama, hingga tidak dapat bergerak.
Kalau sekiranya Tuhan takdirkan Anwar Pasja dapat kemenangan, tentulah Turki di waktu ini jadi pusat persatuan Islam sedunia, dan tidak dada orang yang mengatakan Turki tidak fanaticagama. Orang Barat tidak memusuhi Turki dan hendak hapuskan di dari Eropa, melainkan lantaran fanatik agamanya. Apa boleh buat, dala perjuangan antara kau Islamji dan Turkji (kebangsaan) menang!
Soekarno: manakala zaman modern memisahkan urusan dunia daripada urusan spiritual maka ia adalah menyelamatkan dunia dari kebencanaan dan ia member kpada agama itu satu singgasana yang maha kuat di dalam kalbunya kaum yang percaya”
A. Hassan: Tuan Soekarno rupanya belum atau tidak tahu, bahwa bencana dunia yang begini banyak datangnya lantaran negeri-negeri tidak diurus menurut agama yang sebenarnya, Kalau dunia diurus secara agama, niscaya selamatlah dunia dari semua bencana.
Dengan memisahkan agama dari negeri hingga tidk ada ketua yang berhak menghukum orang-orang yang melanggar perintah agamanya itu, bukan berarti member singgasana yang kuat dihati pemeluknya, tetapi bermakna menyediakan liang kubur yang dalam buat agama itu.
Soekarno: bahwa hal pemisahan itu, rakyat Turki terima dengan gembira dan besar hati”
A. Hassan: “Ini Satu Dusta Besar yang muncu dari Tuan Soekarno. Tuan Soekarno sudah baca 41 buah buku tentang Turki, tetapi rupanya di situ tidak ia bertemu bagaimana tidak senangnya rakyat Turki yang terbanyak kepada hal pemisahan itu!!
Tuan Soekarno mesti baca juga lain-lain buku yang menyalin teriakan rakyat Turki dari perbuatan-perbuatan mulhidin-mulhidin itu.
Di akhir bantahannya ini A.Hassan mengajukan sebuah buku yang mungkin belum ditelaah Soekarno Yakni “Grey Golf: An Intimate Study of a Dictator by H.C Armstrong” Terhadap buku tersebut A.Hassan memberikan catatan ringkas sebagai berikut
“Didalam buku diterangkan tarikh Mustafa kamal dari kecil sampai jadi dictator turki. Di situ diceritakan kepandaian dan keberaniannya dalam urusan perang dengan sepenuh-penuhnya. Diterangkan pula Keras kepalanya dan maksudnya membuang raja dan agama, yang sudah ada padanya selagi ia muda.
Di sebut hal kesukaanya kepada minuma keras dan berjudi, hingga masa ia jadi dictator. Diriwayatkan kegemarannya pada perempuan-perempuan bibir merah, untuk memuaskan nafsunya semata-mata.
Dikisahkan bagaimana ia ambil perempuan, buang perempuan dengan jalan tidak halal, hingga seorang perempuan yang bernama Fikriah matu bunuh diri lantaran malu dan makan hati.
Ditarikhkan bagaimana ia mengusir dan membunuh teman-temannya yang sama-sama dapatkan kemenangan, tidak lain lantaran mengadakan oposisi dan tidak mau menjadikan ia dictator.
Apa yang saya sebut hanya sedikit dari orang banyak. Orang yang begitu sifatnya hendak dijadikan tauladan oleh Tuan Soekarno, yang dibuntuti oleh Tuan Abdurrahman Baswedan, Hingga membikin artikel panjang lebar memuji-muji Turki” (A.Hassan, Islam dan kebangsaan:131-132)

Surat-Surat Soekarno Kepada A. Hassan
Kepada A. Hassan, Soekarno bercerita keinginannya membaca buku “Utusan Wahabi.” Ia juga bercerita telah menerjemahkan buku biografi Ibnu Saud. “Bukan main hebatnya ini biografi! Saya jarang menjumpai biografi yang begitu menarik hati,” ujar Bung Karno.

Sepucuk surat nun jauh dari tanah seberang dikirimkan kepada Tuan A. Hassan, guru utama Persatuan Islam (Persis). Sang pengirim bukanlah sembarang orang. Ia tokoh muda bangsa yang kala itu berada dalam pengasingan di Endeh, Nusa Tenggara Timur. Soekarno, nama pengirim surat itu, tak lain adalah sosok yang kemudian hari menjadi  founding father dan presiden pertama Republik Indonesia. Soekarno sosok yang berapi-api, cerdas, dan ambisius.

Dari tanah pengasingan yang sepi, Soekarno berkirim surat kepada Tuan Hassan, begitu A. Hassan biasa disapa pada saat itu.  Bagi Soekarno, A. Hassan adalah sahabat sekaligus guru dalam mempelajari Islam. Ia mengagumi karya-karyanya, termasuk juga mengagumi cara pandangnya terhadap ajaran-ajaran Islam. Kepada Tuan Hassan, Soekarno berkirim kabar dan bercerita panjang lebar mengenai berbagai hal, di antaranya soal taklid, takhayul, kejumudan umat Islam, dan lain sebagainya. Ia juga menceritakan keinginannya untuk mendapatkan bahan-bahan bacaan Islam, terutama karya-karya A. Hassan. Di antara karya A. Hassan yang ingin sekali ia baca adalah buku berjudul, “Utusan Wahabi”.
Sepucuk surat itu ia tulis dengan ketulusan, sebagai berikut:

Endeh, 1 Desember 1934
Assalamu’alaikum,
Jikalau saudara memperkenankan, saya minta saudara mengasih hadiah kepada saya buku-buku yang tersebut berikut ini: Pengajaran Sholat, Utusan Wahabi, Al-Muctar, Debat Talqien. Al-Burhan Complete, Al-Jawahir.
Kemudian, jika saudara bersedia, saya minta sebuah risalah yang membicarakan soal “sajid” (kalangan sayyid atau habaib, red). Ini buat saya bandingkan dengan alasan-alasan saya sendiri tentang hal ini. Walaupun Islam zaman sekarang menghadapi soal yang beribu-ribu kali lebih besar dan lebih rumit dari pada soal “sajid” itu, tetapi toch menurut keyakinan saya, salah satu kejelasan Islam Zaman sekarang ini, ialah pengeramatan manusia yang menghampiri kemusyrikan itu. Alasaan-alasan kaum “sajid” misalnya, mereka punya “brosur kebenaran”, saya sudah baca, tetapi tidak bisa menyakinkan saya. Tersesatlah orang yang mengira, bahwa Islam mengenal satu “Aristokrasi Islam”. Tiada satu agama yang menghendaki kesamarataan lebih daripada Islam. Pengeramatan manusia itu adalah salah satu sebab yang mematahkan jiwa suatu agama dan umat, oleh karena pengeramatan manusia itu melanggar tauhid. Kalau tauhid rapuh, datanglah kebathilan!
Sebelum dan sesudahnya terima itu buku-buku yang saya tunggu-tunggu benar, saya mengucapkan terimakasih.
Wassalam,
Soekarno
Pada kesempatan lain, Soekarno juga berkirim kabar kepada A. Hassan, memohon agar guru Persatuan Islam (Persis) itu membantu perekonomian keluarganya, dengan membeli karya terjemahannya mengenai Ibnu Saud. Soekarno menceritakan kekagumannya kepada Ibnu Saud setelah menerjemahkan sebuah karya berbahasa Inggris mengenai sosok tersebut.
“Bagi saya buku ini bukan saja satu ikhtiar ekonomi, tetapi adalah pula satu pengakuan, satu confenssion. Ia menggambarkan Ibnu Saud dan Wahhabism begitu rupa, mengkobar-kobarkan elemen amal, perbuatan begitu rupa hingga banyak kaum ‘tafakur’ dan kaum pengeramat Husain cs (Syiah, pen) akan kehilangan akal nanti sama sekali,” tulisnya.
Kepada Tuan Hassan, ia menuliskan sebagai berikut:
Endeh, 12 Juli 1936
Assalamu’alaikum,
Saudara! Saudara punya kartu pos sudah saya terima dengan girang. Syukur kepada Allah SWT punya usul Tuan terima!.
Buat mengganjal saya punya rumah tangga yang kini kesempitan, saya punya onderstand dikurangi, padahal tadinya sudah sesak sekali buat mempelajari segala saya punya keperluan, maka sekarang saya lagi asyik mengerjakan terjemahan sebuah buku Inggris yang mentarikhkan Ibnu Saud. Bukan main hebatnya ini biografi! Saya jarang menjumpai biografi yang begitu menarik hati. Tebalnya buku Inggris itu, format Tuan punya tulisan “Al-Lisaan”, adalah 300 muka, terjemahan Indonesia akan menjadi 400 muka (halaman, pen). Saya saudara tolong carikan orang yang mau beli copy itu barangkali saudara sendiri ada uang buat membelinya? Tolonglah melonggarkan rumah tangga saya yang disempitkan korting itu.
Bagi saya buku ini bukan saja satu ikhtiar ekonomi, tetapi adalah pula satu pengakuan, satu confenssion. Ia menggambarkan Ibnu Saud dan Wahhabism begitu rupa, mengkobar-kobarkan elemen amal, perbuatan begitu rupa hingga banyak kaum ‘tafakur’ dan kaum pengeramat Husain c.s akan kehilangan akal nanti sama sekali. Dengan menjalin ini buku, adalah suatu confenssion bagi saya bahwa, walaupun tidak semua mufakat tentang system Saudisme yang juga masih banyak feudal itu, toch menghormati dan kagum kepada pribadinya itu yang “toring above all moslems of his time; an Immense man, tremendous, vital, dominant. A gian thrown up of the chaos and agrory of the desert, to rule, following the example of this great teacher , Mohammad”. Selagi menggoyangkan saya punya pena buat menterjemahkan biografi ini, jiwa saya ikut bergetar karena kagum kepada pribadi orang yang digambarkan. What a man! Mudah-mudahan saya mendapat taufik menjelaskan terjemahan ini dengan cara yang bagus dan tak kecewa. Dan mudah-mudahan nanti ini buku, dibaca oleh banyak orang Indonesia, agar bisa mendapat inspirasi daripadanya. Sebab, sesungguhnya buku ini penuh dengan inspirasi. Inspirasi bagi kita punya bangsa yang begitu muram dan kelam hati. Inspirasi bagi kaum muslimin yang belum mengerti betul-betul artinya perkataan “Sunah Nabi”, yang mengira, bahwa Sunah Nabi SAW itu hanya makan kurma di bulan puasa dan cela’ mata dan sorban saja !.
Saudara, please tolonglah. Terimakasih lahir-batin, dunia-akherat.
Wassalam,
Soekarno
Kepada A. Hassan, Soekarno juga bercerita mengenai ibu mertuanya yang telah meninggal dan kritik yang dialamatkan kepadanya karena ia dan keluarga tidak mengadakan acara tahlilan untuk almarhumah ibu mertuanya.
Dalam surat tertanggal  14 Desember 1935, Soekarno menulis:
“Kaum kolot di Endeh, di bawah ajaran beberapa orang Hadaramaut, belum tenteram juga membicarakan halnya tidak bikin ‘selamatan tahlil’ buat saya punya ibu mertua yang baru wafat itu, mereka berkata bahwa saya tidak ada kasihan dan cinta pada ibu mertua itu. Biarlah! Mereka tak tahu-menahu, bahwa saya dan saya punya istri, sedikitnya lima kali satu hari, memohonkan ampunan bagi ibu mertua itu kepada Allah. Moga-moga ibu mertua diampuni dosanya dan diterima iman Islamnya. Moga-moga Allah melimpahkan Rahmat-Nya dan Berkat-Nya…”
Begitulah cuplikan surat-surat Soekarno kepada sahabatnya, Tuan A. Hassan. Sahabatnya yang pada masa lalu mendapat stigma “Wahabi” dan dianggap membawa paham baru soal Islam. Unik memang persahabatan Soekarno dan A. Hassan. Karena pada masa selanjutnya, dua orang sahabat ini berbeda pandangan soal hubungan agama dan negara.
Meski sahabat karib, A. Hassan tak segan-segan mengkritik Soekarno yang begitu mengidolakan sekularisasi yang diusung oleh tokoh sekular Turki, Mustafa Kamal Attaturk. Bagi A. Hassan, Islam tak bisa dipisahkan dari urusan negara. Kritik A. Hassan terhadap paham sekular Soekarno bisa dilihat dalam buku “Islam dan Kebangsaan“, sebuah karya fenomenal A. Hassan yang mengkritisi kelompok nasionalis-sekular pada masa itu.
Toh, meski berbeda pandangan, ketika Soekarno di penjara di Bandung, Tuan Hassan dan para anggota Persatuan Islam tetap membesuknya sebagai sahabat.

Harus saling mengertilah

Sunday, July 24, 2011

AKU COWO & aku tau kalo cowo sama cewe itu BEDA., dan aku juga tau kalo cewe itu INGIN DIMENGERTI.. semua orang mengatakan kalo cewe ingin dimengerti..

Orang lebih banyak tau kalo cewe itu ingin dimengerti. Padahal cowo juga sama ingin DIMENGERTI,,

Cewe mengatakan kalo cowo ga bisa mengerti cewe tapi JANGAN SALAH cowo juga mengatakan cewe NGGA MAU ngerti KEKURANGAN cowo hanya saja mereka ga banyak bicara soal itu NGGA SEPERTI cewe.,

Cewe memaksakan cowo supaya ngerti TAPI cewe berusaha membuat cowo itu ngerti DENGAN CARA cewe,, padahal itu SALAH,, ngertiin donk kekurangan cowo,, cowo itu punya KEKURANGAN..! dan kekurangan itu bukan salah mereka.. ingat!

“NGGA SEMUANYA COWO NGERTI ISYARAT CEWE”

Klo cewe ingin cowo ngerti, buat cowo itu ngerti dengan cara yang BISA DIMENGERTI COWO., jangan bikin cowo BINGUNG!

TOLONG BILANG,, jangan pake isyarat terus!

Ingat,, cowo itu NGGA SEPERTI cewe.. Harus saling meNGERTI'Lah JANGAN EGOIS..!

COWO JUGA AKAN SELALU BERUSAHA UNTUK MENGERTI ISYARAT CEWE.,

TAPI jika mereka NGGA ngerti-ngerti MAKLUMILAH kekurangan mereka., BIMBING mereka supaya MENGERTI,,

TOLONG BICARA!

bagi cowo itu sungguh LUAR BIASA & kedepannya juga cowo AKAN NGERTI jika suatu saat cewe ngasih isyarat seperti itu lagi.

Ingat, cowo juga NGGA BEGO, mereka juga PASTI NGERTI kalo dikasih PENGERTIAN..!